PKK Kota Denpasar Gelar Pelatihan Banten Tumpeng Solas di Desa Pemogan

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – PKK Kota Denpasar terus gencar meningkatkan pemahaman masyarakat terutama ibu-ibu dan sekaa teruni dalam melestarikan budaya salah satunya untuk membuat banten yadnya. Ini merupakan salah satu bentuk program nyata yang dilaksanakan PKK Kota Denpasar dalam melestarikan adat dan budaya serta merupakan bentuk asas kemanfaatan program yang dirasakan masyarakat.

Demikian disampaikan Camat Denpasar Selatan I Wayan Budha saat menghadiri pelatihan banten di Br. Gunung, Desa Pemogan Kecamatan Denpasar Selatan, Rabu (18/10/2017). Pelatihan yang diikuti ratusan peserta ibu-ibu PKK Desa Pemogan tersebut dihadiri Wakil Ketua TP PKK Ny. Antari Jaya Negara dan Ny. Kerti Rai Iswara.

Lebih lanjut Wayan Budha menambahkan agar semua ibu-ibu peserta pelatihan banten agar mengikuti pelatihan ini secara tekun sehingga mengetahui makna banten yang di buat. “Bila ada yang tidak mengerti dari makna banten yang dibuat, saya harap para peserta bertanya pada nara sumber. Sehingga benar-benar mengetahui secara benar menurut sastra agama tentang makna banten yang dibuat,” ujarnya.

Untuk itu Wayan Budha mewanti-wanti agar memanfaatkan pelatihan ini dengan baik. Disamping itu apa yang didapat dalam pelatihan banten agar disampaikan pada ibu-ibu lainnya sehingga mereka mengetahui makna banten yang dibua.

Sementara Perbekel Desa Pemogan I Gede Nyoman Wiryanata menyambut baik kegiatan pelatihan ini yang menyasar ibu-ibu. Mengingat hampir setiap hari ibu-ibu membuat banten, sehingga perlu memahami secara benar sesuai dengan sastra agama dalam membuat banten tersebut.

Kedepannya Ia mengharapkan pelatihan semacam ini agar rutin dilaksanakan mengingat di banjar-banjar akan selalu ada keluarga baru yang belum memahami tentang pembuatan banten secara benar. Disamping itu akan sangat membantu untuk lebih meringankan keluarga karena banten tersebut tidak harus membeli.

Nara sumber pelatihan Wayan Sukerti dari WHDI mengatakan dalam membuat banten hendaknya ibu-ibu lebih dahulu menghilangkan pikiran-pikiran atau perbuatan yang tidak sesuai dengan agama seperti marah-marah. Hal ini mempengaruhi banten itu sendiri mengingat akan dipersembahkan pada Tuhan. “Kami harapkan para ibu-ibu sebelum membuat banten agar menyucikan seluruh pikiran dan perbuatan dari hal-hal negatif sehingga banten yang dibuat pun menjadi suci,” harap Sukerti.

Salah seorang peserta Made Sutini mengatakan kegiatan ini sangat positif karena dapat lebih memahami makna banten tersebut. Terlebih sekarang generasi muda sudah jarang yang mau berkecimpung dalam membuat banten secara mendalam. Untuk itu kegiatan ini kedepannya lebih menyasar generasi muda sehingga ada regenerasi. (gst/humas-dps/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :