BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Jika bicara soal pendidikan karakter, SMP PGRI 2 Denpasar atau beken dengan sebutan Grisda adalah gudangnya. Para siswa SMP PGRI 2 Denpasar disiapkan menjadi SDM Bali yang andal dan berkarakter. Dua ribu lebih siswa sekolah ini, Jumat (18/8/2017) terlibat dalam Gebyar Budaya.

Gebyar budaya menjadi trade mark (program unggulan) SMP PGRI 2 Denpasar, selain Grisda Computer Competition (GCC) dan Grisda Nawa Natya. Salah satu mata lomba yang paling meriah dalam Gebyar Budaya adalah lomba ngelawar dan sate lilit.

Lomba ngelawar juga dipantau Lurah Sumerta, I Made Tirana. Ia tampak serius mengamati siswa ngelawar didampingi Kepala SMP PGRI 2 Denpasar, Dr. I Gede Wenten Aryasudha, M.Pd.

Lurah I Made Tirana, mengacungkan jempol dengan kegiatan anak-anak SMP PGRI 2 Denpasar yang juga warga Kota Denpasar. Mereka ini diarahkan secara benar menjadi SDM yang cerdas secara intelektual, emosional, sosial dan spiritual.

Ke depan, ia berharap kegiatannya bisa lebih diperluas, bila perlu siswa diajarkan membuat banten piodalan sendiri. Caranya, dengan memberi tugas secara parsial kemudian digabung per kelas hingga menjadi banten piodalan. Kedua, semua keterampilan itu bisa digunakan di masyarakat dalam kehidupan beragama. ‘’Saya yakin, kalau kita serius pasti bisa,’’ pungkasnya.

Gebyar budaya ini dikatakan Gede Wenten Aryasudha sebagai implementasi dari visi sekolah sebagai sekolah unggulan berbasis agama Hindu dan budaya Bali. Ini pas juga dengan visi Denpasar sebagai kota berwawasan budaya.

Dengan kegiatan ini Aryasudha ingin menguatkan pendidikan karakter di kalangan siswa di antaranya terbangunnya rasa persaudaraan dan kebersamaan siswa, guru dan karyawan. Khusus untuk lomba ngelawar SMP PGRI 2 Denpasar menggelar dua kali dalam setahun yakni  menjelang HUT Kota Denpasar dan hari Saraswati.

Lomba ngelawar juga dimaksud untuk membekali keterampilan siswa dalam membuat masakan Bali. Lawar ini, bukan saja kini untuk dikomsumsi sehari-hari dan dipakai untuk sarana banten, namun bisa dijadikan usaha produktif menjadi pengusaha muda di bidang lawar.

Lomba ngelawar juga dalam rangka menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan siswa.  Lomba ini juga sarat dengan latihan yoga, karena saat ngelawar mulai dari ngeracik bumbu hingga menyajikan memerlukan konsentrasi, kecerdasan dan kecekatan.

Konsentrasi ini, kata dia, diperlukan dalam dunia pendidikan. Bahkan di ajang ngelawar dia menemukan persamaan gender antara laki dan wanita. Saat lomba siswi dan siswa berbagi tugas, mereka belajar ngilit sate, ngeramas dan menyajikan secara apik.

Dengan gebyar budaya ini, sekolah, kata dia, ikut melestarikan budaya ngelawar di kalangan siswa. Kedua, semua keterampilan yang dilombakan merupakan bekal hidup bagi siswa. Mereka diharapkan menjadi panutan nanti di keluarga dan di masyarakat. Ketiga, sarana yang dilombakan langsung dijadikan banten persembahan untuk nyanggra hari raya Saraswati, Sabtu ini.

Ia menekankan kepada siswa bahwa ada tiga hal yang perlu dipakai sesuluh. Pertama, agama dipakai sebagai media yang membuat makna hidup lebih terarah. Kedua, budaya yang menghaluskan kehidupan dengan polesan emosional dan intelektual, dan ketiga, teknologi dipakai untuk mempermudah hidup manusia. Hanya semua itu harus dijalankan di jalan dharma. (tis/bpn)


Pantau terus baliportalnews.com di :