Lolot Luncurkan Album ”Manusa Raksasa”

BALIPORTALNEWS.COM – Lolot band kembali menyapa penggemarnya yakni Bali Rocker dengan merilis album bertajuk "Manusa Raksasa".

"Album ini sudah siap sejak setahun lalu, hanya saja jadwal manggung cukup padat, dan baru sekarang bisa di rilis," ungkap Lanang saat jumpa pers Lolot band, belum lama ini di Hardrock Hotel, Kuta.

Kendati demikian, sebagai pencetus aliran rock alternatif di Bali, Lolot mengaku optimis. Setiap usaha akan melahirkan hasil, termasuk dalam memaksimalkan album terbarunya.

Bagi Lolot album ini cukup alot dan sangat spesial, pascarujuknya personel band dan komitmen untuk berkarya secara mandiri.

"Diperkuat drumer baru yakni Hendra, label baru yakni Bola Kutus dan musikalitas yang lebih dewasa kami optimis album ini mampu dimaksimalkan," imbuh Lanang.

Album ke delapan Lolot band ini terdapat 13 lagu  andalan, di antaranya "Dharma Sentana", "Dagang Kasur", "Beda Tipis", "Ngadol Gumi" dan "Manusa Raksasa".

Tanpa mengurangi kualitas, seluruh lagu menggunakan bahasa Bali sebagai ciri khas Lolot band.

Bagi Made Bawa, selain sebagai ciri khas, menggunakan bahasa bali untuk berkarya mempunyai edukasi tersendiri bagi pendengarnya. Khususnya bagi generasi muda yang kini kian meninggalkan bahasa daerah dalam pergaulannya.

Dengan karya ini De Bawa dan kawan-kawan berupaya melestarikan bahasa daerah agar tetap menjadi bahasa keseharian.

"Namun tidak mudah untuk menyesuaikan kosa kata bahasa bali dijadikan lirik lagu. Kami butuh waktu dua tahun untuk itu," ujar Bawa.

Selain komit dengan bahasa bali, karya-karya Lolot band selalu mengandung pesan moral dan kritik, seperti lagu "Ngadol Gumi".

Bawa menjelaskan lagu ini terispirasi dari keadaan lingkungan yang banyak perubahan akibat perkembangan globalisasi. Kesadaran masyarakat dalam menjaga tanah bali kian terkikis oleh perkembangan global, akibatnya banyak tatanan lingkungan yang berubah, kondisi alam pun kian ekstrem.

Dalam lagu ini mengingatkan, betapa pentingnya kesadaran untuk menjaga lingkungan dan tanah Bali, sebagai warisan generasi muda dan mempertahankan keajegan Bali.

"Tanpa disadari kami merasakan kehilangan Bali, lingkungan asri kini berubah jadi polusi. Ini harus jadi perhatian kita bersama sebagai warga Bali," pungkasnya. (gas/bpn)